Monday, April 28, 2014

Tricks or Threats: WTF Is Music Production?

Banyak yang kurang paham apa dan bagaimana music production (produksi musik) itu. Kebanyakan musisi hanya mengetahui cara bikin lagu, bikin aransemen musik, lalu rekaman. Nah dalam proses tersebut terdapat beberapa tahap-tahap yang perlu kita ketahui. Jadi saya ingin berbagi wawasan kepada teman-teman musisi yang sedang berpikir untuk memiliki lagu/single atau album sekalipun.

Sebelum lebih jauh, saya ingin menjelaskan orang-orang yang terlibat dalam suatu produksi musik. Oknum yang paling jelas adalah musisi atau grup band itu sendiri, penyanyi maupun pemain alat musik, atau yang lebih dikenal dengan sebutan artis. Selanjutnya ada songwriter atau penulis lagu. Kebanyakan penulis lagu berasal dari artis atau anggota dari grup band itu sendiri, namun ada juga artis yang menyanyikan lagu orang lain untuk remake, atau kover, atau memang memiliki penulis lagu khusus. 

Kemudian ada sound engineer atau recording engineer. Orang ini bertugas untuk meng-capture performa dari artis sesuai dengan karakter dan kebutuhan artis atau band itu dan kemudian merekamnya. Sound engineer haruslah memiliki pengalaman dan jam terbang dalam menangani berbagai macam karakter artis. Sebagai contoh, saat akan merekam vokal, sound engineer harus mengetahui mikofon apa yang pas untuk karakter penyanyi tersebut. Begitu pula dengan teknik todong (mic'ing) mikofon untuk menangkap sumber suara seperti drum, kabinet speaker gitar, dll. Setelah semua performa sudah direkam, tibalah saatnya untuk mixing. Orang yang melakukan tugas itu sering disebut mixing engineer atau yang lebih singkat sebagai mixer. 

Dalam mixing, semua suara yang telah direkam di kombinasikan dan diatur keseimbangannya antara suara satu dan suara yang lain. Mixing engineer haruslah peka terhadap respon frekuansi dari masing-masing suara, mana yang harus ditonjolkan dan mana yang harus dipotong agar tidak ada frekuensi yang saling bertabrakan, sehingga masing-masing suara dapat membaur satu sama lain dengan harmonis. Setalah proses mixing selesai, tibalah saatnya untuk pengemasan terakhir, yaitu mastering. Orang yang melakukan proses ini disebut mastering engineer. 

Banyak yang mengira proses mastering adalah proses untuk menentukan tingkat kekencangan lagu. Padahal tugas mastering tidak hanya sebatas itu saja. Dalam proses mastering suatu album, mastering engineer berusaha untuk menyamakan tingkat volume suara pada satu lagu ke lagu yang lain, begitu pula respon frekuensi masing-masing lagu harus serupa antara satu lagu ke lagu yang lain. Dalam dunia rekam modern yang menggunakan media rekam digital, tugas mastering juga meliputi penyesuaian "sample rate" agar album/single tersebut menjadi standar untuk kualtias CD. Tidak cukup sampai disitu, mastering engineer yang baik juga memperhatikan timing yang pas antara perpindahan lagu. 

Dari semua proses tersebut, ada satu orang yang bertanggung jawab dalam proses produksi musik, orang itu tentu saja produser musik (music producer). Producer musik kerap juga merangkap salah satu atau beberapa tugas sekaligus, entah sebagai penulis lagu, entah sebagai mixing engineer, ataupun sebagai artis itu sendiri. Orang ini yang biasanya mengawasi kualitas (quality control) di tiap-tiap tahap produksi. Dia tau mau dibawa kemana arah musik tersebut layaknya seorang kapten kapal.

Lebih lanjut, saya akan memperlihatkan terlebih dahulu suatu gambaran dalam bentuk piramida yang telah saya desain sendiri secara profesional. ;)


Dari gambaran diatas bisa kita lihat tahap-tahap dalam produksi musik mulai dari yang paling mendasar hingga paling atas. Tahap yang bawah akan sangat mempengaruhi dan menentukan bagaimana proses diatasnya. Maka dari itu dalam proses tersebut, haruslah kita optimalkan mulai dari tahap yang paling bawah dan medasar sebaik-baik mungkin untuk lanjut ke tahap atasnya. Layaknya teori kebutuhan Abraham Maslow yang menjadi inspirasi saya dalam mendesain piramid ini. Bahwasanya manusia haruslah dipenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu untuk bisa memenuhi kebutuhan di tingkat atasnya. Hmm..kurang lebih seperti itu. :D

Berdasarkan pengalaman, terdapat satu contoh kasus yang salah dan yang paling banyak saya temui. Artis atau engineer atau siapapun yang terlibat pada saat proses recording tidak berusaha seoptimal mungkin menangkap sumber suara yang akan direkam, dan alasan yang fatal yaitu "nanti bisa dibenerin waktu mixing." Well dude, we couldn't fix bad recording!

Hal lain yang cukup banyak saya jumpai adalah mindset bahwa "proses mixing adalah yang terpenting untuk bikin lagu jadi bagus." Gak salah, cuma kurang tepat. Menurut saya pribadi, tetap saja yang paling menentukan adalah hal yang paling mendasar dari gambaran piramida tersebut, yaitu LAGU. Akhir-akhir ini banyak saya jumpai hasil rekaman dan mixing/mastering yang lumayan namun dengan lagu yang pas-pasan. Lalu ada juga beberapa lagu yang bagus namun dengan kualitas mixing/mastering yang pas-pasan. Yang mana yang kira-kira lebih betah untuk saya putar di iPod saya? Tentu saja yang memiliki lagu bagus, melodi yang catchy, lirik yang menyentuh, namun dengan kualitas mixing pas-pasan. Jadi pesan saya terhadap teman-teman musisi, all you have to do is making great song, 'cause at the end of time is all about The SONG.

Nah bagi teman-teman musisi yang sedang memikirkan untuk berkarya, bikinlah lagu sebaik-baiknya, tulislah lirik dengan jujur sesuai hati, dan setelah jadi sebuah lagu calon hits dan penghargaan, percayakan semua tugas selanjutnya kepada saya. Saya akan dengan senang membatu. ;)

2 comments: