Thursday, May 15, 2014

Indie Soul = Freedom

Indie merupakan istilah singkat dari kata "independent" atau "independence" yang berarti berdiri sendiri. Dalam dunia musik, isitlah indie mengacu pada kebebasan bermusik tanpa harus mengikuti pasar komersil industri musik. Tentu saja industri musik itu sendiri dari jaman ke jaman tetap dikuasai genre pop. Namun banyak musisi atau grup band yang memiliki idealisasi bermusik mereka yang tidak sepenuhnya mengacu pada budaya pop, contohnya rock, metal, punk, grunge, dll. Mereka lah yang disebut kaum indie, mereka lah yang berkarya dengan bebas sesuai idealisasi bermusik masing-masing, baik dari genre musik maupun lirik.

Dari istilah musisi indie itu sendiri lama kelamaan terbangun suatu persepsi unik, yaitu dengan melihat apakah musisi/grup band tersebut terkontrak mayor label komersial atau tidak. Paradigma ini tidak sepenuhnya benar menurut opini saya pribadi. Banyak musisi indie yang telah sukses mengusung musik idealis mereka hingga akhirnya dilirik suatu mayor label komersial, dan selama mereka tetap mengusung idealisasi dalam bermusik, mereka tetap disebut band indie. Begitu juga sebaliknya, banyak band-band amatir yang mengaku musisi indie, namun lagu-lagu yang mereka usung gak lebih dari budaya pop yang sedang diminati pasar.

Banyak band-band dari Indonesia yang lahir dan besar dari dunia indie dan akhirnya sukses di industri musik Indonesia seperti Superman Is Dead, Netral, dll. Kali ini ada sebuat grup band rock indie berasal dari Memphis, Amerika Serikat yang beberapa waktu lalu saya mixing dan mastering. Band ini bernama Human Radio dengan lagu mereka yang berjudul "You And Me And The Radio". Langung kita dengerin saja:

Human Radio - You And Me And The Radio


Terasa "bebas" bukan?
Itu adalah salah satu contoh musik indie yang bisa kita dengarkan lewat lagu maupun liriknya.

Lagu ini sekali lagi direkam oleh salah satu merek mikrofon papan atas Telefunken, direkam dengan mikrofon Telefunken yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya, dan dengan alat-alat rekaman yang premium, serta direkam oleh engineer yang profesional, dan tentu saja dimainkan oleh musisi-musisi hebat dengan jiwa indie yang kuat.

Sekali lagi, indie bukan hanya menjadi suatu istilah namun juga menjadi sebuah persepsi. Dari yang saya tulis diatas, semua berdasarkan opini dan persepsi saya pribadi. Lalu bagaimana dengan anda?


Friday, May 9, 2014

You'd Like To Headbang?

Waktunya headbang dulu yuk..

Band metal dari UK yang bernama Karybdis ini sangat oke buat headbang. Aransemennya juga asik. Saya membayangkan band ini di panggung, saya yakin pasti penonton akan liar. Segala macam gaya "beladiri" akan dipertunjukkan. Bagi yang suka nonton pertunjukan musik metal pasti mengerti yang saya maksud. :) Tapi tentu saja semua hanya untuk fun, musisi sejati beradu dengan karya, bukan dengan jotos. Setuju?

Mari kita dengarkan lagu yang berjudul "Constellation" ini:
Karybdis - Constellation


Seru kan?

Lagu ini di produksi oleh Nolly dan John Walker, direkam dengan sangat baik dengan peralatan studio yang oke. Berikut catatan info produksi dari produsernya langsung:

DRUMS: 
Produced and engineered by Adam "Nolly" Getgood and John Walker. Tracked at Moles Studio, Bath, UK. Tama Superstar kick, Taye custom toms, Gretsch Bell Brass snare. Mics listed in track files. 
-Kick In tracked through DBX 160VU compressor 
-Snare Top routed through Vintech X73i (Neve clone) pushed into overdrive for aggressive crunch 
-Overheads and room stereo files panned from drummer perspective 
-Overhead mono mic is omni and therefore quite ambient 
-Over Shoulder mic placed behind drummer 
-Stereo Room tracks compressed by Tube-Tech LCA-2B 
-Mono Room mic aimed at reflective surface on floor and heavily compressed through 1176 

GUITARS/BASS: Produced and engineered by Harsha Dasari. 
Bass DI compressed through Distressor, B7K track reamped through Darkglass B7K distortion pedal. 

VOCALS: Produced and engineered by John Walker. 
Recorded with handheld SM58 through 1176. Handheld technique results in inconsistent tonal qualities, very tricky to mix! 

STRINGS: Produced and engineered by Jon Walker and Adam "Nolly" Getgood. Tracked at Moles Studio, Bath, UK.

Gimana temans, lehernya sudah sakit belum?


Thursday, May 1, 2014

Nashville Vibe

Nashville, sebuah kota dari negara bagian Tennessee, Amerika Serikat, sangat terkenal sebagai pusat pendidikan, berbagai jenis industri, dan yang paling penting sebagai sebagai pusat industri musik. Hampir semua musik-musik yang menjadi hits diproduksi di kota ini sehingga menjadikan kota ini dengan julukan "Music City" atau Kota Musik. Semua genre musik mulai dari pop, rock, hingga heavy metal dihasilkan di kota ini. Namun musik country adalah yang paling menonjol.

Sekali lagi ada lagu yang direkam oleh perusahan mikofon papan atas Telefunken dengan kualitas rekaman yang sangat profesional. Band ini bernama Uncle Dad dengan lagu berjudul "WHo I Am" yang mengusung genre country. Langung saja yuk kita dengerin:

Uncle Dad - Who I Am


Gimana, lagunya bagus bukan?
Lagu ini di produce dan di rekam oleh Dan Frizsell di Legends Studio, Nashville. Saya tidak melakukan banyak proses dalam me-mixing lagu ini karena hasil rekaman yang sudah sangat bagus. Saya hanya ingin menonjolkan nuansa country ala Nashville saja dengan referensi beberapa lagu country favorit saya.

Berikut beberapa testimoni dari rekan-rekan engineer:









Lalu bagaimana dengan komen anda?

Tuesday, April 29, 2014

Admit It: Girl In A Rock Band Are Hot As Hell!

Tidak sedikit band "fronted-female" yang ngetop sejak era 80'an. Ada Marie Frederiksson dari band Roxette. Single-single-nya masih terdengar apik hingga sekarang. Ada juga Dolores O'Riordan dengan band-nya Cranberries yang terkenal dengan hit single Zombie, Linger, Ode To My Family dan masih banyak lagi. Siapa yang gak kenal Gwen Stefani bersama band-nya No Doubt, atau semua orang tau betapa berkarisma-nya Hayley Williams ketika melantunkan lagu-lagu bersama bandnya Paramore.

Kali ini ada ACTIONS!, satu lagi band "fronted-female" dari UK yang mengusung aliran pop rock, mirip seperti Paramore, namun dengan sentuhan khas mereka. Langsung saja kita simak dua single mereka yang keren:

ACTIONS! - One Minute Smile


ACTIONS! - South Of The Water


Gimana, keren bukan? Lagu pertama yang berjudul "One Minute Smile" bertempo medium-fast yang enerjik, sementara lagu kedua yang berjudul "South Of The Water" terdengar sangat lembut namun tetap terasa energi rock-nya.

Banyak tantangan saat saya me-mixing band ini, yang menjadi tantangan pertama adalah vokal-nya. Terdengar sibilance yang susah dikontrol. Disisi lain, sang vokalis memiliki "star quality" dalam menyanyikan lagu, dan saya harus meng-"enhance" agar kualitasnya semakin terdengar. Tantangan lain adalah kualitas rekaman yang kurang baik, suara drum terkesan tumpul dan kebocoran bunyi di tiap mikrofon-nya gak terkontrol. Maka dari itu dalam memixing drum untuk band ini, saya melakukan teknik "sample replacement", yaitu mengganti suara asli drum dengan "sample" atau suara drum lain. Mungkin pembahasan tentang ini akan saya bahas di postingan khusus lain waktu.

Namun seperti postingan saya sebelumnya, bahwa artis yang memiliki kualitas lagu yang bagus namun dengan kualitas rekaman yang pas-pasan tetap akan lebih enak didengar dibanding dengan artis yang memiliki lagu pas-pasan namun dengan kualitas mixing dan mastering yang prima.

Saya menyadari band ini memiliki kualitas lagu yang bagus, aransemen yang apik berikut riff-riff gitar yang "catchy". Maka dari itu tugas saya untuk semaksimal mungkin mengolah sound mereka sebaik-baiknya. Am I did it?

Monday, April 28, 2014

Tricks or Threats: WTF Is Music Production?

Banyak yang kurang paham apa dan bagaimana music production (produksi musik) itu. Kebanyakan musisi hanya mengetahui cara bikin lagu, bikin aransemen musik, lalu rekaman. Nah dalam proses tersebut terdapat beberapa tahap-tahap yang perlu kita ketahui. Jadi saya ingin berbagi wawasan kepada teman-teman musisi yang sedang berpikir untuk memiliki lagu/single atau album sekalipun.

Sebelum lebih jauh, saya ingin menjelaskan orang-orang yang terlibat dalam suatu produksi musik. Oknum yang paling jelas adalah musisi atau grup band itu sendiri, penyanyi maupun pemain alat musik, atau yang lebih dikenal dengan sebutan artis. Selanjutnya ada songwriter atau penulis lagu. Kebanyakan penulis lagu berasal dari artis atau anggota dari grup band itu sendiri, namun ada juga artis yang menyanyikan lagu orang lain untuk remake, atau kover, atau memang memiliki penulis lagu khusus. 

Kemudian ada sound engineer atau recording engineer. Orang ini bertugas untuk meng-capture performa dari artis sesuai dengan karakter dan kebutuhan artis atau band itu dan kemudian merekamnya. Sound engineer haruslah memiliki pengalaman dan jam terbang dalam menangani berbagai macam karakter artis. Sebagai contoh, saat akan merekam vokal, sound engineer harus mengetahui mikofon apa yang pas untuk karakter penyanyi tersebut. Begitu pula dengan teknik todong (mic'ing) mikofon untuk menangkap sumber suara seperti drum, kabinet speaker gitar, dll. Setelah semua performa sudah direkam, tibalah saatnya untuk mixing. Orang yang melakukan tugas itu sering disebut mixing engineer atau yang lebih singkat sebagai mixer. 

Dalam mixing, semua suara yang telah direkam di kombinasikan dan diatur keseimbangannya antara suara satu dan suara yang lain. Mixing engineer haruslah peka terhadap respon frekuansi dari masing-masing suara, mana yang harus ditonjolkan dan mana yang harus dipotong agar tidak ada frekuensi yang saling bertabrakan, sehingga masing-masing suara dapat membaur satu sama lain dengan harmonis. Setalah proses mixing selesai, tibalah saatnya untuk pengemasan terakhir, yaitu mastering. Orang yang melakukan proses ini disebut mastering engineer. 

Banyak yang mengira proses mastering adalah proses untuk menentukan tingkat kekencangan lagu. Padahal tugas mastering tidak hanya sebatas itu saja. Dalam proses mastering suatu album, mastering engineer berusaha untuk menyamakan tingkat volume suara pada satu lagu ke lagu yang lain, begitu pula respon frekuensi masing-masing lagu harus serupa antara satu lagu ke lagu yang lain. Dalam dunia rekam modern yang menggunakan media rekam digital, tugas mastering juga meliputi penyesuaian "sample rate" agar album/single tersebut menjadi standar untuk kualtias CD. Tidak cukup sampai disitu, mastering engineer yang baik juga memperhatikan timing yang pas antara perpindahan lagu. 

Dari semua proses tersebut, ada satu orang yang bertanggung jawab dalam proses produksi musik, orang itu tentu saja produser musik (music producer). Producer musik kerap juga merangkap salah satu atau beberapa tugas sekaligus, entah sebagai penulis lagu, entah sebagai mixing engineer, ataupun sebagai artis itu sendiri. Orang ini yang biasanya mengawasi kualitas (quality control) di tiap-tiap tahap produksi. Dia tau mau dibawa kemana arah musik tersebut layaknya seorang kapten kapal.

Lebih lanjut, saya akan memperlihatkan terlebih dahulu suatu gambaran dalam bentuk piramida yang telah saya desain sendiri secara profesional. ;)


Dari gambaran diatas bisa kita lihat tahap-tahap dalam produksi musik mulai dari yang paling mendasar hingga paling atas. Tahap yang bawah akan sangat mempengaruhi dan menentukan bagaimana proses diatasnya. Maka dari itu dalam proses tersebut, haruslah kita optimalkan mulai dari tahap yang paling bawah dan medasar sebaik-baik mungkin untuk lanjut ke tahap atasnya. Layaknya teori kebutuhan Abraham Maslow yang menjadi inspirasi saya dalam mendesain piramid ini. Bahwasanya manusia haruslah dipenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu untuk bisa memenuhi kebutuhan di tingkat atasnya. Hmm..kurang lebih seperti itu. :D

Berdasarkan pengalaman, terdapat satu contoh kasus yang salah dan yang paling banyak saya temui. Artis atau engineer atau siapapun yang terlibat pada saat proses recording tidak berusaha seoptimal mungkin menangkap sumber suara yang akan direkam, dan alasan yang fatal yaitu "nanti bisa dibenerin waktu mixing." Well dude, we couldn't fix bad recording!

Hal lain yang cukup banyak saya jumpai adalah mindset bahwa "proses mixing adalah yang terpenting untuk bikin lagu jadi bagus." Gak salah, cuma kurang tepat. Menurut saya pribadi, tetap saja yang paling menentukan adalah hal yang paling mendasar dari gambaran piramida tersebut, yaitu LAGU. Akhir-akhir ini banyak saya jumpai hasil rekaman dan mixing/mastering yang lumayan namun dengan lagu yang pas-pasan. Lalu ada juga beberapa lagu yang bagus namun dengan kualitas mixing/mastering yang pas-pasan. Yang mana yang kira-kira lebih betah untuk saya putar di iPod saya? Tentu saja yang memiliki lagu bagus, melodi yang catchy, lirik yang menyentuh, namun dengan kualitas mixing pas-pasan. Jadi pesan saya terhadap teman-teman musisi, all you have to do is making great song, 'cause at the end of time is all about The SONG.

Nah bagi teman-teman musisi yang sedang memikirkan untuk berkarya, bikinlah lagu sebaik-baiknya, tulislah lirik dengan jujur sesuai hati, dan setelah jadi sebuah lagu calon hits dan penghargaan, percayakan semua tugas selanjutnya kepada saya. Saya akan dengan senang membatu. ;)

Saturday, April 26, 2014

How About Metalcore?

Waktunya headbang dulu deh..

Lagu kali ini berjudul "Blinking Lights" dari band metalcore bernama Fireball, diproduksi dan direkam oleh mereka sendiri. Berikut lagunya:



File yang saya mixing berupa program drum midi, yang kemudian saya gunakan untuk men-trigger virtual instrument Toontrack Superior Drummer. Kick dan Snare-nya saya kombinasikan dengan sample dari Steven Slate. Untuk gitar berupa file yang direkam secara DI, yang kemudian saya gunakan kombinasi plugin simulasi ampli gitar Line 6 POD Farm 2 dan Eleven Free bawaan dari Pro Tools. Untuk bass juga berupa file DI yang kemudian saya gunakan plugin simulasi ampli Ampeg buatan IK Multimedia. Plugin lain yang saya gunakan adalah Waves SSL dan beberapa plugin gratis.

Jadi, cukup membuat anda ber-headbang ria kah?

Modern vs Retro

Sulit dipercaya genre musik seperti ini masih eksis. Dan_Gabel_and_The_Abletones adalah grup big band jazz era 60an seperti Frank Sinatra. Band yang dimotori oleh Dan Gabel (trombonis dan vokalis) ini melakukan performa secara live yang sekali lagi direkam dengan sangat sempurna oleh perusahaan mikorfon papan atas Telefunken. Me-mixing band ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, dikarenakan banyaknya jenis intrument, dan masing2 mikofon tidak hanya menangkap satu jenis suara saja.

Saat pada proses mastering, tiba-tiba saya tercetus ide untuk melakukan dua versi. Versi pertama adalah versi modern yang "clean" dan versi kedua adalah versi vintage/retro yang lebih terasa analog. Karna pada jaman taun 60an, media rekaman menggunakan pita/tape, yang secara natural akan menghasilkan "saturation" atau distorsi yang disebabkan proses magnetik dari pita/tape dan mesin perekam-nya. Mungkin penjelasan tentang berbagai macam media rekaman yang dilakukan dari jaman ke jaman akan saya jelaskan secara spesifik di thread/posting khusus mengenai hal tersebut.

Mari kita simak dulu lagu keren dari Dan Gabel and The Abletones

 Versi Modern:


Versi Retro:


It's all matter of taste, semua balik lagi ke masalah selera. Beberapa orang lebih suka versi modern karna dirasa lebih "bersih", namun ada pula rekan-rekan yang lebih menyukai versi retro karena nuansa 60an-nya lebih berasa.

Lalu bagaimana dengan anda?